IDENTITAS AGAMA DAN SUKU MASYARAKAT ADAT PASCA KONFLIK BERDARAH DI HALMAHERA UTARA

  • Gloria Miagina Djurubassa Dosen Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Halmahera Jl. Raya Wari, Wari Ino, Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara
##plugins.pubIds.doi.readerDisplayName## http://dx.doi.org/10.52447/polinter.v2i2.599

Sari

Tragedi berdarah di Halmahera Utara seharusnya merupakan catatan kritis bangsa Indonesia, karena jika konflik terus terjadi maka peluang untuk melahirkan disintegrasi bangsa semakin besar. Hal ini mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat seperti ideologi politik, agama, ekonomi, dan sosial budaya. Perdamaian sesudah konflik di Halmahera Utara menyisahkan persoalan tersendiri bagi masyarakat dalam komunitas Kristen dan komunitas Islam. Sebagai sebuah persekutuan  yang dibangun dalam ikatan kekerabatan dan keyakinan terhadap kuatnya ikatan  yang melampaui sekat agama yang di anut, konflik yang telah terjadi memberikan bukti tertentu bahwa ikatan kekerabatan tersebut tidak cukup kuat dalam mengatasi perbedaan yang disebabkan oleh agama yang dianut oleh masyarakat
Diterbitkan
Feb 20, 2017
##submission.howToCite##
DJURUBASSA, Gloria Miagina. IDENTITAS AGAMA DAN SUKU MASYARAKAT ADAT PASCA KONFLIK BERDARAH DI HALMAHERA UTARA. Jurnal Polinter : Kajian Politik dan Hubungan Internasional, [S.l.], v. 2, n. 2, p. 31-53, feb. 2017. ISSN 2460-0903. Tersedia pada: <https://ojs3.binainsancerdas.com/index.php/polhi/article/view/599>. Tanggal Akses: 13 apr. 2026 doi: http://dx.doi.org/10.52447/polinter.v2i2.599.
Bagian
Penelitian

Kata Kunci

Kata kunci: identitas agama, masyarakat adat, konflik Halmahera Utara